HALAL BI HALAL DI RW 11 PERUMAHAN MOJOSONGO PERMAI

Oleh : Toto Subagyo

Halal bi halal warga RW XI merupakan kegiatan kerohanian rutin tahunan yang mempunyai banyak manfaat diantaranya adalah sebagai wahana pertemuan warga RW XI dengan harapan  antara warga yang satu dengan yang lainnya dapat saling mengenal, Tujuan utama kegiatan ini adalah dapat sebagai sarana untuk saling maaf memaafkan diantara warga dalam upaya mencari kesempurnaan amalan Romadlon yakni Ridlo Alloh SWT.

Waktu pelaksanaan adalah hari Sabtu  tanggal 18 September 2010 bertempat   di Halaman masjid Walisongo perumahan Mojosongo Permai. Sebagi ketua pelaksana kegiatan ini adalah Basirun, SP., MT. yang dibatu oleh seluruh warga RW 11. Kegiatan ini berlangsung lancar sejak diawali pembukaan dengan bacaaan Basmalah yang dipandu oleh pembawa acara  Ibu Prapti Joko Sugiyartono. Secara berurutan acara berlangsung sebagai berikut :

1.  Pembukaan

2.  Laporan ketua panitia

3.  Sambutan – sambutan

  1. Ketua RW 11
  2. Ketua Kadus 3

4.  Ikrar halal bi halal oleh Bapak Sri waluyo dilanjutkan saling bersalaman antar warga

5.  Pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh Ibu Hartono

6.  Tausiah Inti Halal bi Halal oleh Bapak Badwan dari Salatiga dan ditutup dengan do

Jika anda ingin mengetahui materi inti halal bi halal silahkan inilah ringkasannya:

HALAL BI HALAL DAN PENINGKATAN KUALITAS

Oleh BADWAN

  1. Dalam pergaulan sering terjadi kesalahan. Kesalahan yang mudah terjadi biasanya adalah Salah sangka dan bias meningkat pada Salah bicara. Salah bicara bisa membawa akibat besar dalam kehidupan bersama. Permusuhan yang memuncak sampai pada pertumpahan darah bisa terjadi hanya karena salah bicara, pengrusakan oleh sekelompok orang bisa jadi hanya dipicu oleh ucapan yang salah. Betapa lisan kita itu memegang peran yang sangat menentukan dalam pergaulan bersama. Kesalahan lisan kadangkala lebih merusak dari pada kesalahan dalam bentuk perbuatan badaniyah lainnya.
  2. Mengapa dalam pergaulan mudah terjadi kesalahan? Sebab dalam hubungan horizontal ini agama tidak memberikan juknis seperti dalam hal hubungan yang bersifat vertical. Perintah menyayangi sesame, menolong, menghormati orang tua, memaafkan, semua tidak diberi juknis ( …… contoh menyayangi, menolong, menghormati ….). Karena tidak ada juknis, maka dalam hubungan horizontal (pergaulan) biasanya lebih mudah menimbulkan kesalahan, dan kesalahan yang paling banyak terjadi di tengah pergaulan adalah salah sangka dan salah bicara/ ucapan.
  3. Apakah kesalahan itu kita biarkan saja? Tentu harus dibersihkan, sebab kesalahan akan menjadi “penjara” bagi hidup kita. Semakin merasa mempunyai kesalahan, orang akan semakin sempit bergerak, karena akan jauh dengan orang dan jauh dengan Tuhannya.
  4. Kesalahan dalam hubungan vertical dibersihkan dengan memohon ampunan (istighfar, berpuasa, bertaubat), tetapi kesalahan dalam hubungan horizontal diperlukan adanya saling memaafkan dimana agama tidak memberikan juknisnya. Budaya halal bi halal inilah kreasi manusia dalam melaksanakan perintah untuk saling memaafkan. Arti penting dari budaya ini adalah keberanian orang untuk menyatakan salah kepada orang lain (yang sulit dilaksanakan diluar suasana bulan Syawal), yang kadangkala disertai dengan perasaan mendalam sehingga ada yang sampai menangis. ( ……….saking semangatnya malah jadi perlombaan ngaku salah ….)

Buah yang harus diusahakan :

  1. Idul – fitri artinya kembali ke fitrah bisa dimaknai kelahiran. Jadi bisa dimaknai mengenang kembali situasi kelahiran diri kita masing-masing, dimana kelangsungan hidup kita sangat tergantung pada kepedulian yang lain. Bukan atas kemauan sendiri, tetapi atas kemauan orang lain, bayi itu tumbuh menjadi anak-anak dan bisa berbicara, hingga menjadi dewasa. Pertumbuhan ini tidak pernah lepas dari bantuan orang lain. Jadi , kita membutuhkan orang lain sejak kelahiran sampai besuk setelah mati.
  2. Karena itu ‘Iedul fitri juga harus dijadikan titik awal memperbaiki silaturohim karena kita menyadari tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
  3. Hakekat dari silaturohim adalah kepercayaan, artinya hubungan silaturohim disebut baik bila bisa menumbuhkan sikap saling percaya. Itulah sebabnya kita dijamin luas rezkinya bila mau bersilaturahmi dalam makna menjalin hubungan seluas-luasnya dengan siapa saja secara baik sehingga menumbuhkan sikap saling percaya.
  4. Modal membangun silaturohmi adalah positive thinking (husnuzhon). Karena positive thinking bisa mengurangi beban pikiran sehingga pikiran bisa lebih jernih, bisa membebaskan dari perasaan khawatir, bisa menumbuhkan semangat kerjasama, akan meningkatkan disiplin sebab kerjasama mempersyaratkan kedisiplinan , menghilangkan permusuhan sebab ada harapan baik, dan mensikapi perbedaan sebagai karunia bukan lahan permusuhan.

Dengan cara itu maka ber ‘Iedul fitri bisa disebut “syawwal” yaitu pengingkatan kualitas diri.